BudayaMistisMitosSpiritual

Menelusuri Legenda 9 Sanghyang: Penguasa Tanah Jawa

Sanghyang, dalam konteks kepercayaan tradisional di Tanah Jawa, mengacu pada entitas atau penguasa tak terlihat yang dipercayai mendiami berbagai lokasi sebelum masa peradaban manusia. Dalam kepercayaan Kapitayan, Kejawen, dan Wiwitan, konsep Sanghyang merujuk pada sosok penguasa gaib yang memiliki kekuatan gaib serta pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia.

Berikut adalah 9 Sanghyang yang dipercaya memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat di Tanah Jawa lengkap dengan latar belakang dan hubungan mereka:

1. Sanghyang Asta Dewa

Sanghyang Asta Dewa adalah seorang dewa yang menjadi pemimpin 8 dewa (Sanghyang) yang ada di Pulau Jawa. Istilah “Asta” berarti 8 dan “Dewa” berarti dewa, jadi Sanghyang Asta Dewa berarti Pemimpin 8 dewa. Dia menjadi penguasa Gunung Semeru. Dia juga memiliki 2 putra yang dikenal sebagai Joyo Menggolo dan Joyo Wiseso.

Sanghyang Asta Dewa juga memiliki hubungan dengan Nyi Roro Kidul, seorang dewa laut selatan yang memiliki tubuh Naga berwajah manusia. Mereka berdua memiliki pertarungan yang tidak berakhir sampai hemat darah antara mereka. Setelah pertarungan, Nyi Roro Kidul melahirkan anak perempuan yang diberi nama Dewi Nawang Wulan. Namun, dia juga melahirkan anak laki-laki yang harus dibawa oleh Joyo Menggolo ke wilayah timur (Gunung Lawu). Anak ini diberi nama Jaya Dharma.

2. Sanghyang Baruna

Sanghyang Baruna, juga dikenal sebagai Ratu Monggo Segoro Kidul, merupakan salah satu penguasa lautan pantai selatan yang berbentuk naga. Dia memiliki pengaruh yang luas, terutama pada kerajaan-kerajaan yang berada di pulau Jawa zaman dulu. Sanghyang Baruna telah membuat beberapa dinasti di tanah Jawa, yang menunjukkan kekuatannya dan pengaruhnya dalam masyarakat Jawa zaman itu.

Anak dari Sanghyang Baruna adalah Maheswari Sansan Doro, yang juga dikenal sebagai Nyai Blorong. Dia juga memiliki anak angkat, salah satunya adalah Dewi Lanjar. Dewi Lanjar, yang juga bisa diartikan sebagai Pondoworo, memiliki tanggung jawab menjaga pantai Utara Pulau Jawa. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Dewi Lanjar sebenarnya adalah seorang lelaki.

Meskipun Sanghyang Baruna memiliki anak angkat, namun tidak semua anak tersebut memiliki peran penting dalam masyarakat. Salah satu contohnya adalah Dewi Lanjar, yang meskipun memiliki tanggung jawab menjaga pantai Utara Pulau Jawa, namun perannya sebagai penguasa pantai utara tidak sebanding dengan Sanghyang Baruna.

3. Sanghyang Lodaya

Pangeran Lodaya, juga dikenal sebagai Sanghyang Lodaya, adalah seorang pangeran yang memiliki kemampuan unggul dalam menguasai elemen api. Dia adalah salah satu dari 9 Sanghyang yang ada di Pulau Jawa, dengan nama asli Lalaroga Kusuma Diraga. Pangeran Lodaya telah mendirikan kerajaan di Gunung Patuha yang terletak di Rancabali, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Seiring berjalannya waktu, Pangeran Lodaya berjuang dengan pasukan Syech Hasyim Bahadur dan akhirnya memeluk agama Islam. Keputusannya ini mencerminkan perjalanan spiritual dan moralnya dalam menghadapi tantangan dan perjuangan hidup.

Pangeran Lodaya juga memiliki anak, Jaya Manggala (Joyo Mongolo), yang bersemayam di Gunung Lawu. Jaya Manggala, juga dikenal sebagai Jaya Menggolo atau Eyang Lawu, memiliki kegiatan yang sangat aktif dan banyak dikenal dengan bacaan ayat suci Al-Quran dengan indah.

4. Sanghyang Braja Dharma

Sanghyang Braja Dharma adalah salah satu Sanghyang yang memiliki keilmuan yang mengendalikan petir yang bersemayam di Gunung Galunggung Tasikmalaya. Sanghyang ini menaungi kebataraan atau keresian di Gunung Galunggung yang pada akhirnya beralih menjadi Kerajaan di Tatar Pasundan.

Sanghyang Braja Dharma juga yang mengasuh dan mendidik Rahyang Jaya Dharma, anaknya Asta Dewa, yang dipercayakan sejak dari lahir oleh Sanghyang Asta Dewa.

Pada suatu waktu, Sanghyang Braja Dharma perlu berjuang dengan Sanghyang Lodaya di Gunung Patuha karena dianggap sudah berbeda ajaran. Pertarungan antara Sanghyang Lodaya dan Sanghyang Braja Dharma sangat dahsyat dan bahkan memporak porandakan sekitar, membuat Gunung Patuha meletus pada Abad ke-9.

5. Sanghyang Agni Nagaswara

Sanghyang Agni Nagaswara adalah salah satu Sanghyang yang berwujud sebagai penguasa element api. Sanghyang ini memiliki keilmuan yang menguasai unsur Api dan juga pembuat senjata atau pusaka gaib. Sanghyang Agni lebih banyak bersemayam di gunung Ra’up

6. Sanghyang Antari Kusuma

Sanghyang Antari Kusuma adalah salah satu Sanghyang atau dewa dalam kepercayaan zaman dulu yang dipercayai memiliki kekuatan dalam mengendalikan angin dan badai. Sanghyang Antari Kusuma diyakini berasal dari Jawa Timur dan memiliki kemampuan yang sangat kuat dalam menguasai kekuatan angin dan badai.

Menurut tradisi, Sanghyang Antari Kusuma pernah membantu pasukan kerajaan Padjadjaran dalam perang melawan Kerajaan lain dengan mengirimkan badai dan angin kencang yang membuat pasukan musuh kocar-kacir. Karena jasanya, Sanghyang Antari Kusuma dianggap sebagai pelindung pasukan Padjadjaran dalam perang dan dihormati sebagai Sanghyang angin dan badai yang kuat.

Selain itu, Sanghyang Antari Kusuma juga dipercayai sebagai pelindung petani dalam menghadapi musim kemarau dan hama tanaman yang sering muncul pada musim tersebut. Oleh karena itu, dalam upacara adat, terdapat banyak doa dan tarian yang ditujukan kepada Sanghyang Antari Kusuma untuk memohon kesuburan dan kelancaran dalam bercocok tanam.

Dalam mitologi Jawa, Sanghyang Antari Kusuma mempunyai anak yakni Panca atau masyarakat lebih mengenal yang disebut Sapu Angin yang menjaga Gunung Merapi.

7. Sanghyang Anan Jaya

Sanghyang Ananjaya, raja legendaris yang hidup di era Jawa Kuno, adalah penguasa Gunung Rawu. Dia adalah seorang peneliti yang bijaksana dan berani, yang menjalankan penelitian dan praktik spiritual yang mendalam.

Salah satu keilmuan utama Sanghyang Ananjaya adalah Wanarayudha, yang dalam konteks budaya dan agama Jawa merujuk pada tek atau monyet. Monyet dalam budaya Jawa sering digambarkan sebagai simbol kekuatan dan kewibawaan, dan Sanghyang Ananjaya dikenal memiliki kontrol atas entitas ini.

Namun, Sanghyang Ananjaya bukan hanya sekedar peneliti. Dia juga adalah pemimpin yang bijaksana dan berani. Salah satu contohnya adalah ketika dia melakukan tapa Brata di Gunung Semeru. Tapa Brata adalah ritual yang dilakukan untuk memohon kesetiaan atau perlindungan dari dewa atau sang hyang lainnya. Dalam hal ini, Sanghyang Ananjaya melakukan tapa Brata kepada Sang Hyang yang dipenguasai Gunung Semeru, menunjukkan kedua kekuatan dan keberaniannya.

8. Sanghyang Anantasena

Sanghyang Anantasena, atau yang lebih dikenal sebagai Antasena, adalah salah satu tokoh penting dalam pewayangan Jawa. Dia adalah putra bungsu dari Bimasena, yaitu Pandawa nomor dua. Antasena lahir dari seorang ibu bernama Dewi Urangayu putri Batara Baruna.

Antasena dikenal karena kekuatan dan keberaniannya. Dia bisa terbang, bermain ke dalam bumi, dan berenang. Kulitnya juga dilindungi oleh sisik udang yang membuatnya kebal terhadap semua jenis senjata. Antasena juga dikenal karena wataknya yang polos dan lugu, namun teguh dalam pendirian. Dia selalu menggunakan bahasa ngoko saat berbicara dengan siapa pun, yang menunjukkan kejujurannya.

Antasena juga memiliki hubungan erat dengan Sang Hyang Narada dan Sang Hyang Wenang. Saat Antasena masih dalam kandungan, Sang Hyang Narada mengeluarkannya dan memberikannya kepada Sang Hyang Wenang untuk dididik menjadi satriya. Sang Hyang Wenang menjadi pelindungnya dan membantunya dalam berbagai pertempuran.

Setelah dewasa, Antasena berangkat menuju Kerajaan Amarta untuk mencari ayah kandungnya. Di sana, dia menemukan Bima dan Pandawa lain yang telah disekap dan mati. Dengan bantuan Cupu Madusena, pusaka pemberian kakeknya, Antasena berhasil menghidupkan mereka kembali dan membunuh musuh yang telah menyerang mereka.

9. Sanghyang Surya Dhiva Sekha

Sanghyang Surya Dhiva Sekha adalah salah satu dari sembilan Sanghyang di Tanah Jawa, yang memiliki keilmuan unsur Matahari dan berkuasa di Gunung Agung Bali.

Keberadaan Sanghyang ini menciptakan warisan mistis yang menjadi bagian dari sejarah pra-sejarah Tanah Jawa. Meskipun kisah mereka tidak memiliki catatan khusus dalam Al-qur’an atau riwayat Hadist, legenda ini menjadi wawasan sejarah yang menggambarkan kekayaan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat pada masa lalu. Sebagai bagian dari warisan budaya, cerita tentang Sanghyang terus memengaruhi keyakinan dan kehidupan masyarakat di Tanah Jawa.

Eliyanto Sarage

Dibalik setiap proyek terdapat cerita unik, dari konsep awal hingga hasil akhir yang menakjubkan, mencerminkan perjalanan kreatif yang penuh tantangan.

Artikel Terkait

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Back to top button